Kuliah Umum bertajuk “Merancang Pembelajaran Biologi yang Bernilai Wawasan Lingkungan” telah diselenggarakan pada Jumat, 9 Oktober 2026, bertempat di Aula FTK baru Gedung F, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan akademik ini menghadirkan Dr. M. Harja Effendi, M. Pd., selaku Ketua Program Studi Tadris IPA Biologi UIN Mataram, sebagai narasumber utama. Diskusi yang dibangun dalam kuliah ini merespon urgensi krisis ekologis global, dengan menitikberatkan pada pergeseran paradigma pembelajaran biologi dari sekadar asimilasi konsep menjadi praktik yang solutif terhadap degradasi lingkungan. Pendekatan ini ditekankan pada pencapaian relevansi teoretis dengan realitas alam, penumbuhan tanggung jawab moral peserta didik, serta stimulasi aksi nyata yang pro-lingkungan.

Tujuan fundamental dari pembaruan paradigma pedagogis ini adalah pembentukan generasi yang memiliki kapasitas ekoliterasi, yakni pemahaman komprehensif mengenai relasi interdependensi antara aktivitas manusia dan keberlanjutan sistem penyokong kehidupan bumi. Hal ini diwujudkan melalui implementasi pendidikan sains yang relevan dan terkontekstualisasi. Dr. Harja memaparkan tiga pilar pedagogi lingkungan sebagai fondasi operasional: outdoor learning yang mereposisi alam sebagai laboratorium interaktif primer, pendekatan problem-based yang mendorong investigasi analitis terhadap preseden pencemaran lokal, serta metode contextual yang berorientasi pada sintesis solusi ekologis praktis bagi entitas komunitas. Ketiga pilar ini didesain untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan aplikasi praktis pelestarian lingkungan.

Lebih lanjut, integrasi nilai-nilai wawasan lingkungan dalam kurikulum biologi dapat diartikulasikan ke dalam berbagai domain materi pokok. Pada kajian Ekosistem dan Ekologi, titik berat diletakkan pada strategi restorasi habitat. Dalam ranah Keanekaragaman Hayati, fokus diarahkan pada preservasi spesies dan pelestarian endemisme lokal. Sementara itu, kajian Fisiologi Tumbuhan diorientasikan untuk menginvestigasi respons adaptif organisme tumbuhan terhadap paparan agen polutan lingkungan. Transformasi pembelajaran ini secara inheren menuntut modifikasi pada sistem evaluasi. Penilaian komprehensif tidak lagi didominasi oleh evaluasi kognitif semata, yang kini bergeser pada analisis dampak, pemecahan masalah, dan studi kasus melainkan mengakomodasi asesmen aksi dan afektif melalui instrumen seperti portofolio proyek lingkungan, rubrik observasi kepedulian, dan penulisan jurnal reflektif ekologis. Sebagai konklusi, Dr. Harja mengimbau para pendidik biologi untuk mengambil langkah proaktif dalam mendesain Modul Ajar Hijau, dengan mengintegrasikan isu-isu lingkungan lokal, merancang aktivitas berbasis alam, dan menerapkan evaluasi sikap yang berkelanjutan, guna mencegah sains dari sifat destruktif akibat ketiadaan kesadaran ekologis.


